Sejarah dan Perkembangan Astronomi

Uraian mengenai proses perkembangan dan sejarah astronomi secara singkat, khususnya sejarah astronomi di Indonesia. Uraian ini juga mencoba meluruskan pemahaman yang keliru yang telah beredar di kalangan masyarakat antara ilmu astronomi dengan astrologi.  Arus tujuan uraian ini, terdapat beberapa tujuan yang diharapkan dapat dicapai oleh pembaca.

Di antarnya tujuan yang diharapkan adalah penjelasan tentang perbedaan astronomi dan astrologi, memahami tahap-tahap perkembangan astronomi, menjelaskan tahap awal astronomi di dunia Islam, menyatakan bentukbentuk kearifan lokal astronomi dan Rasi Bintang, dan mengetahui perkembangan astronomi di Indonesia. Materi Prasyarat pada uraian ini, agar lebih mudah memamahi materi uraian ini maka Anda harus memiliki pemahaman umum mengenai pengklasifikasian bidang yang termasuk dalam bidang astronomi.

Astronomi dan Astrologi

Astronomi merupakan ilmu yang mempelajari segala bentuk gejala langit dan tatanan langit yang  tidak memiliki batas. Dari zaman dahulu ilmu astronomi telah berkembang pesat sebagi tuntutan terhadap kebutuhan hidup manusia dalam menandai peristiwa-peristiwa tertentu. Terdapat dua istilah yang sering digunakan manusia, yaitu astronomi dan astrologi (perbintangan). Istilah ini pada dasarnya memiliki pemaknaan dan penempatan yang berbeda dan tidak seharusnya jika di campuradukan konteks pemakaiannya. Perbedaan antara astronomi dan astrologi dikemukakan pada Tabel berikut:

Astronomi Astrologi
Studi tentang alam semesta yang merupakan totalitas dari semua materi, energi, ruang, dan waktu Ilmu perbintangan yang secara turun temurun yang dikaitkan dengan kisah-kisah kehidupan rakyat
Mempelajari kondisi fisik, kimiawi, dan evolusi benda-benda langit tanpa kaitan dengan nasib manusia saat ini Mempelajari pergerakan planet, bulan, matahari, dan bintang-bintang yang diyakini berkaitan dengan nasib manusia
Contoh : Bumi mengalami torasi dan revolusi, Penciptaan Teleskop Oleh Galileo Galilei, dan Penemuan Hukum Gerak Planet Oleh Kepler Contoh : Mitos tentang kaitan kemunculan komet dengan pergantian raja atau bencana atau kaitan gerhana dengan nasib calon bayi di kandungan 
Sumber: Ariasti, Adrajana Wisni, et al. (1995). Perjalanan Mengenal Astronomi.

Prinsipnya bila fenomena alam dikaitkan dengan nasib, itu pasti bukan tafsir astronomi, mungkin lebih sesuai sebagai tafsir astrologi. Tafsir astrologi tentang fenomena astronomi sering mengundang sensasi. Dengan makin mudahnya penyebaran informasi bila tanpa disertai rasionalitas berfikir, maka dapat menimbulkan polemik terhadap kehidupan dan keyakinan seseorang. Bahkan di negara maju sekali pun ramalan-ramalan bencana struktur kaidah kalimatnya membuat orang banyak yang panik. Sebagai contoh mengenai akan datangnya hari kiamat pada tanggal 12 bulan 12 tahun 2012.

Pada tanggal ini suku maya memprediksi melalui perhitungan kalendernya mengenai akan tibanya hari kehancuran dunia. Ternyata itu hanya sebuah mitos yang tidak terbukti kejadiannya yang terjadi malah terdapat badai matahari yang hanya sedikit mempengaruhi sistem komunikasi di bumi ini. Untuk itu keyakinan dan ilmu pengetahuan merupakan modal yang sangat diperlukan bagi kita agar kita terhindar dari beritaberita yang sifatnya hanya sensasi belaka.

Jika ditinjau dari tafsir astronomi terdapat tiga hal yang nyata sebagai pijakan dalam mengkaji sesuatu sebelum menyimpulkan dampak benda langit pada bumi:
  1. Efek pasang surut (pasut) air laut sudah kita kenal sebagi akibat gravitasi bulan dan matahari yang menyebabkan air laut pasang dan surut secara periodik atau berkala.  
  2. Radiasi matahari berdampak besar pada bumi, baik dalam kaitannya dengan komunikasi radio maupun fenomena cuaca dan iklim. Bila ada peningkatan radiasi energi tinggi dari matahari, komunikasi radio gelombang pendek bisa terputus.  
  3. Pancaran partikel dari matahari berupa angin/badai matahari atau debu komet berdampak pada satelit-satelit yang mengorbit bumi. Planet-planet pun tidak memancarkan radiasinya sendiri. Radiasi dari planet-planet tergantung pancaran radiasi matahari. Demikian juga tidak ada pancaran partikel dari planet-planet yang mencapai bumi.

Jadi, sangat tidak beralasan untuk mengaitkan pengelompokan planet-planet dengan bencana di bumi. Sama halnya yang mengaitkan penampakan komet dan gerhana dengan nasib manusia. Sehingga seharusnya tidak ada pencampuran antara keduanya.

Perkembangan Astronomi

Sebagai sumber awal titik mula berkembangnya ilmu astronomi diperoleh dari bangsa Arab, dengan istilah ilmu An-Nujum yang digunakan untuk merujuk ilmu astronomi dan ilmu astrologi. Setelah itu, astronomi berkembang menjadi beberapa kajian ilmu di antaranya yaitu: 
  1. Al-Falak (ilmu navigasi langit yang mempelajari bentuk bola langit, ilmu falak saat ini lebih banyak digunakan dalam penentuan arah kiblat) 
  2. Al-Hay’a (ilmu yang mempelajari mengenai susunan benda-benda langit). Dalam masyarakat muslim, astrologi terus dipraktekkan dan untuk mengambarkan dan mendorong perkembangan pengetahuan astronomi.
Sekitar abad keenam SM, para pemikir Yunani kuno memiliki beberapa pandangan ilmuan mengenai tata surya di antaranya yaitu: 
  1. Pandangan bahwa bumi sebagai pusat tata surya, mereka berpandangan bahwa bumi merupakan bola langit yang diam dan merupakan pusat dari alam semesta ini sedangkan bintang-bintang, bulan dan matahari menempel pada bola langit dan beredar mengelilingi matahari ini dikenal dengan dengan nama geosentris, yang dikemukakan antara lain oleh Ariestoteles (350 SM), dan Ptolomeus (140 SM). 
  2. Anggapan geosentris ini telah ditentang oleh Aritachus (300 SM) yang menyatakan bahwa matahari sebagai pusat jagat raya ini. Baru pada delapan belas abad kemudian pada tahun 1500, seorang pemikir Polandia Nicolaus Copernicus, mengemukakan teori bahwa planet mengelilingi matahari dan bumi ini adalah salah satu dari planet tersebut, pandangan ini dinamakan pandangan heliosentris.  

Setelah berhasil diciptakannya  teleskop oleh Galileo Galilei, maka manusia dapat membuka matanya untuk dapat melihat alam semesta yang luas. Maka pada akhirnya disepakati bahwa matahari merupakan pusat dari sistem tata surya kita. Penciptaan teleskop ini memberikan dampak yang luar biasa terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang astronomi. Salah satunya yaitu didapati bahwa bumi selain mengitari matahari (berevolusi) juga berputar pada sumbunya yang disebut dengan istilah rotasi, karena rotasi bumi dan bentuknya bulat menyerupai telur mengakibatkan gerak harian yaitu gerak terbit dan terbenamnya bintang dan benda langit lainnya. 

Perkembangan Awal Astronomi

Sebelum Islam, pengetahuan bangsa Arab mengenai bintang hanya sebatas pembagian tahun dalam periode yang tepat atas dasar kenaikan bintang dan pengaturannya (anwa). Terjemahan teks bahasa Arab pertama adalah dalam bahasa teks dari India dan Persia. Karya-Karya asli astronomi Arab diproduksi pada sepanjang masa transisi.

Sejarah dan Perkembangan Astronomi

Al-Qonum dan al-Mas’udi merupakan astronom terkenal, pada masa AlBiruni (973-1048M) merupakan puncak dari tahap pertama dalam pengembangan astronomi Arab. Setelah masuknya Islam dalam kebudayaan bangsa arab maka halhal yang berkaitan dengan astronomi adalah masalah yang berkaitan dengan ibadah

Islam seperti menentukan waktu shalat, waktu matahari terbit dan terbenam dalam kaitannya untuk berpuasa, arah kiblat, visibilitas bulan sabit (awal bulan) dan perhitungan kalender. Selain itu dengan hasil karya berupa gambar astrolab, kuadran, kompas kotak dan grid kartografi.

Kearifan Lokal Astronomi dan Rasi Bintang 

Masyarakat Indonesia sebagaian besar adalah masyarakat dengan mata pencharian sebagai petani. Hal ini menyebabkan mereka mengenal dan belajar astronomi sehubungan dengan pertanian. Sedangkan sebagian masyarakt lainnya yang memiliki mata pencarian lain akan menamai rasi bintang sesuai dengan imajinasinya masing-masing. Beberapa bentuk imajinasi konstelasi dalam bentuk hal-hal pertanian seperti Waluku (Orion), Kalapa Doyong (Scorpio), Sapi Gumarang (Taurus), dan Wuluh (Pleiades), dll. Dan dalam bentuk pelayaran misalnya pari atau gubuk penceng (Crux) dan lintang biduk. Imajinasi setiap masyarakat tentunya pasti akan berbeda-beda maka setiap daerah tentunya akan memiliki nama yang berbeda-beda pula, di bawah ini disajikan beberapa bentuk dari kearifan lokal budaya indonesia di antaranya yaitu:
  1. Dalam menjelaskan gerhana bulan yang terjadi pada saat bulan purnama dikenal sebuah cerita rakyat yaitu Raksasa (Batara Kala) menelan bulan, dimana masing-masing daerah di indonesia tentunya memiliki versi yang berbeda-beda menurut kebudayaan daerahnya.  
  2. Rasi bintang waluku (orion) yang dikenal oleh masyarakat jawa bentuknya menyerupai luku sehingga yang muncul pada saat dimulainya musim tanam, sehingga rasi bintang ini digunakan sebagai penanda datangnya musim tanam dan sebagai penunjuk arah barat karena muncul di bagian barat bumi. 
  3. Lintang kartika (Pleides), Lintang Pari (Crux) berfungsi sebagai penunjuk arah mata angin dan penunjuk arah selatan, rasi bintang biduk sebagai penunjuk arah barat dan rasi bintang scorpio sebagai penunjuk arah timur. 
  4. Selain itu juga terdapat kisah yang diceritakan oleh teman satu kampus saya yang berasal dari indonesia timur tepatnya daerah Bima dan Sumbawa, mengenai munculnya hewan sejenis cacing bersinar di setiap bulan purnama.  
  5. Ada lagi menurut kepercayaan masyarakat Jawa kuno, pada musim kemarau kabut ini melewati zenith, membentang dari timur ke barat, menyerupai sepasang kaki yang mengangkangi Bumi. Kaki ini adalah milik Bima, anggota keluarga Pandawa yang diceritakan dalam pewayangan Mahabharata. Demikian besar tubuhnya dan betapa saktinya ia, sehingga kabut itu dinamakan Bima Sakti, sebuah nama yang hingga saat ini masih kita gunakan untuk menamai gumpalan kabut tersebut yaitu Bimasakti,  
  6. Dan juga terdapat relief matahari dan bintang di Borobudur. Pola stupa utama bayangan yang menjelaskan bahwa Borobudur dapat digunakan untuk menentukan waktu. Riset Irma Hariawang, mahasiswa ITB astronomi (2012) 

Rasi Bintang atau konstelasi merupakan kumpulan bintang yang tampak berhubungan dan saling terkait kemudian membentuk suatu konfigurasi dengan pola khusus. Susunan rasi bintang memang tidak resmi, namun dikenal luas oleh masyarakat tapi tidak diakui oleh para ahli astronomi atau Himpunan Astronomi Internasional disebut asterisma. Hal ini dikarenakan pada rasi bintang atau asterisma jarang yang mempunyai hubungan astrofisika mereka hanya kebetulan saja tampak berdekatan di langit yang tampak dari bumi dan biasanya terpisah sangat jauh. Himpunan Astronomi Internasional telah membagi langit menjadi 88 rasi bintang resmi dengan batas-batas yang jelas, sehingga setiap arah hanya dimiliki oleh satu rasi bintang saja. Kita dapat melihat berbagai rasi bintang dan penamaan sesuai dengan katalog Mesir dengan berbantu beberpa sofware di antaranya sofware stelarium, sofware castelestia dan Sky Map pada Android. 

Sebenarnya pola bintang maupun galaxy bima sakti/milky way (istilah yunani) dapat kita lihat dengan mata tanpa bantuan telekop, namun pada kondisi atmosfer yang cerah dan belum tercemar perbandingannya dapat dilihat pada gambar 1.2. Bila kita menatap langit cerah yang  tanpa noda akibat pengaruh debu dan polusi udara CO2 maka akan terlihat warna langit dan bintang-bintang yang berada di dalamnya. Namun saat  ini sebagian besar dari kita, telah hidup di bawah kanopi udara dan keadaan udara yang  tercemar. Polusi udara perkotaan ini menjadikan kita akan sulit untuk melihat bintang dengan jelas. Pada  belahan bumi (hemisfer) utara, kebanyakan rasi bintangnya didasarkan pada tradisi Yunani, yang diwariskan melalui Abad Pertengahan, dan mengandung simbol-simbol Zodiak. 

Pesona langit selatan pada bulan februari pada malam pukul 21.00, kita dapat mengamati berbagai jenis bintang yang di antaranya yaitu:
  1. Bintang Betelgeus, bintang terang kemerahan 
  2. Bintang Bellatrix, ke arah barat dari bintang betelgeuse dengan warna bintang biru 
  3. Bintang Rigel, sedikit menyilang dari arah betelgeuse terdapat bintang terang berwarna biru 
  4. Pada arah tenggara terdapat bintang yang palig terang yaitu bintang Sirius 
  5. Arah utara bintang sirius terdapat bintang Procyon yang sejajar dengan betelgeus. 
  6. Arah barat laut terdapat kelompok bintang biru rapat dinamakan rasi bintang peliades. 

Post a Comment

0 Comments